Ketika Tulisan Ingin Berbicara - Sedikit Berfilsafat dan Beretorika

4:37:00 PM



Ketika Tulisan Ingin Berbicara - Sedikit Berfilsafat dan Beretorika.


Membaca judul diatas mungkin saja membuat beberapa orang mengernyitkan dahi. Mengapa tiba-tiba ada tulisan ini yang 'sepertinya' sangat serius, apalagi jika dibandingkan dengan beberapa post akhir-akhir ini yang lebih didominasi dengan gaya penulisan santai mengenai kehidupan dan aktivitas sehari-hari.

sumber gambar: zaldym.wordpress.com

Akhir-akhir ini, porsi untuk tulisan terlihat lebih sedikit jika dibandingkan dengan posting-posting pertama blog ini. Hal ini disebabkan karena artikel-artikel yang saya posting lebih banyak memuat gambar.




Seperti yang saya katakan beberapa saat lalu bahwa saya sempat mengutip peribahasa yang berkata "1 gambar bisa mewakili 1000 kata".
Alasan untuk membuat posting ini karena ada suatu 'dorongan' dari dalam diri untuk tetap mempertahankan eksistensialisme dari blog ini sendiri yang merupakan blog seorang mahasiswa yang tentunya 'wajib' memiliki isi yang berbobot dan ilmiah tentunya.
Namun, mungkin saja 'dorongan' ini hanya merupakan euforia sementara untuk sekedar kembali melaraskan arah blog ini (menyangkut pengamatan dalam kehidupan dan tidak semata-mata hanya soal dokumentasi seremonial belaka).
Abstraksi blog ini sebenarnya telah sedikit menggambarkan seperti apa dan bagaimana blog ini.

Baiklah, kembali ke topik soal ketika tulisan yang ingin berbicara.
Tak ingin terjebak dalam eksistensi semu sebagai blog showbiz atau ceremonial lewat banyak gambar dan hanya membahas soal kegiatan-kegiatan anak muda, jadi saya tertarik memunculkan identitas dan idealisme saya bagi blog ini, yaitu blog yang berisi catatan saya, baik opini, argumentasi, dan sebagainya.
Tentu hal itu tidak bisa terwujud apabila gambar yang lebih mendominasi artikel.
Saat ini memang sepertinya merupakan langkah yang tepat bagi 'tulisan' kembali berbicara di blog ini.
Analisa dan kritik mungkin bisa kembali ditemukan dari blog ini jika tulisan kembali mengambil tempat utama, terlebih tulisan yang berbobot dan bisa memberikan sumbangsih yang besar bagi pembaca.

Bagi saya sendiri, membahas soal filosofi dan idealisme sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan tidak lepas dari peran literatur, teori politik, administrasi,dan peraturan (baik perundang-undangan,dst) yang tertuang berupa tulisan-tulisan.
Tentunya kemampuan menganalisa dan mengadopsi tulisan sebagai referensi pengetahuan baru ini harus dimiliki sebagai landasan yang dapat memuat dasar pijakan teoritis kita mengenai bidang ilmu yang sedang kita pelajari.

Sebagai orang yang hidup dalam zaman kemajuan teknologi ini yang menitikberatkan pada kemajuan kepedulian humanis namun mulai mengadopsi sistem kapitalis yang membawa banyak negara masuk ke dalam sistem neoliberalisme tentunya kemampuan menganalisa dan mengerti keadaan yang terjadi mutlak diperlukan. Bagi saya sendiri, kemampuan seperti ini bisa didapat dengan terbiasa bergaul dengan tulisan-tulisan.

Teori-teori sosial yang masih banyak bertahan mungkin bisa direvisi lebih baik lagi apabila kita mampu memahami kerangka kontekstual dari sebuah pemikiran ahli-ahli sosial zaman modern dalam bentuk textbook yang memiliki tulisan-tulisan berjejer dan padat. Revisi ataupun teori baru tentunya dapat menjadi sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini bisa dicapai apabila para kaum intelektual memiliki kemampuan bergaul dengan tulisan secara ilmiah.

sumber gambar: ulilujuang.wordpress.com
Pemikiran-pemikiran para ahli sosial seperti Karl Marx dengan konsep humanismenya, Machiavelli dengan pemikiran politiknya, dan bahkan konsep politik dari pemikir Yunani Kuno seperti Plato bahkan masih digunakan hingga sekarang.
Hal ini tentunya karena peran tulisan yang mampu menembus dimensi waktu dan turut menjadi saksi sejarah perkembangan dan perubahan peradaban serta taraf kehidupan manusia.
Kita lihat contoh penemuan-penemuan manuskrip kuno yang merupakan hasil dari tulisan yang 'berbicara' dan mampu dibuktikan validitasnya oleh para ahli yang menjadi peneliti.

Kembali membahas CatatanBryant.com
Tulisan yang memiliki peran penting tentunya memiliki hak untuk berbicara ketika dia merasa di 'diskreditkan' lewat posisinya yang seakan sudah tergantikan oleh gambar yang mendominasi isi blog ini.

Pandangan subjektif yang telah saya paparkan ini tentunya merupakan hasil pengolahan rasio dan pengalaman empiris saya sebagai seorang mahasiswa Ilmu Pemerintahan.
Soal retorika yang coba saya kemukakan disini adalah soal aliran positivisme logis yang tentunya bukan termasuk aliran retorika klasik yang menggunakan bahasa puitis dan lebih banyak dipengaruhi oleh seni dan emosi.

Akhirnya, lewat tulisan ini semoga bisa memacu saya pribadi dan mungkin teman-teman untuk kembali mengingat hakekat dari tulisan yang mungkin sering kita sepelekan perannya dalam kehidupan kita.

Semoga hasil penalaran logis menggunakan rasio dan empiris dapat teraktualisasi lewat tulisan kita, hingga pada saat yang tepat tulisan lah yang akan berbicara.

***

You Might Also Like

6 komentar

Terima Kasih Untuk Komentar Anda.

Editor Picks

Pesona Batu Dinding Kilo Tiga - Amurang, Minahasa Selatan

Kategori

Catatanku (45) Catatan Ringan (20) Kampus (20) Galeri (17) Motor (16) Opini (16) Blogging (14) Pengalaman (14) CB150R (13) Acara (10) Photo Story (10) Perayaan (9) Travel (9) Bisnis (6) Pelayanan (6) Kehidupan (5) Fotografi (4) Monetize (4) Pelajaran Hidup (4) Politik (4) Hobi (3) Kuliner (3) Post by Email (3) Sahabat (3) Tekno (3) Event (2) Keluarga (2) Motivasi (2) Pemerintahan (2) Sulawesi Utara (2) Abstrak (1) Adventure (1) Broadcasting (1) Film (1) Kesehatan (1) Menulis (1) Musik (1) Radio (1) Review (1) Rohani (1)

visit north sulawesi - catatanbryant.com