Tragedi 5 Maret - Goresan Tinta Kelam Dunia Pendidikan Unsrat

12:03:00 PM

Tragedi 5 Maret - "Goresan Tinta Kelam Dunia Pendidikan Unsrat" - Rabu, 5 Maret 2014 menjadi saksi bisu akan tindakan anarkis yang tentu menggoreskan luka pedih dalam dunia pendidikan tinggi di Sulawesi Utara.
Betapa tidak? Tindakan anarkis yang dilakukan oleh beberapa oknum mahasiswa dan entah siapa lagi yang terlibat seakan lebih membuat nama Manado dan seluruh Sulawesi Utara semakin terpuruk, apalagi setelah beberapa saat lalu terpuruk akibat diterjang banjir dan tanah longsor.

Tindakan anarkis yang menunggangi "nama baik" fakultas yang ada tentu semakin membuat carut-marut dunia pendidikan terlebih di Universitas Sam Ratulangi.

Semboyan terkenal kaum intelek Unsrat "Sitou Timou Tumou Tou" (Manusia hidup untuk menghidupi sesama Manusia) seakan tenggelam oleh "Homo Homini Lopus" (Manusia menjadi Serigala bagi sesamanya).

Kaum mahasiswa yang terlibat dalam tragedi anarkis ini seakan lupa dengan sumpah mahasiswa yang didalamnya terdapat semangat untuk bersatu dalam membangun bangsa ini.




Miris, itulah kata yang saya lontarkan melihat ada pihak-pihak yang merasa bahagia dengan tragedi ini.

Gambar dari fatekelektro.blogspot.com




Pernyataan Sikap oleh HMJ Ilmu Pemerintahan Fispol Unsrat.
Pray for Unsrat.

Sangat menyesali tragedi 5 Maret 2014.

Aksi pembakaran gedung dari beberapa oknum yang menunggangi nama fakultas-fakultas yang ada pastilah sangat menyakitkan.

Saudara-saudara kita yang berada di Fakultas Teknik bukan hanya kehilangan gedung mereka, tapi hasil jerih lelah mereka. Laboratorium yang menyimpan hasil-hasil praktek, tugas akhir, dan pencapaian mereka yang dihasilkan dari perjuangan bersama darah dan keringat bertahun-tahun direnggut hanya sekejap mata oleh pemikiran yang dangkal akan arti sebuah "Pengabdian dan Kesetiakawanan".

Sangat miris melihat kebanggaan akan 'kemenangan' semu dari beberapa oknum.

Sangat menyesal untuk tragedi yang terjadi, sangat disayangkan untuk beberapa oknum yang menunggangi nama Fakultas dan bahkan merusak nama baik yang bertahun-tahun dibangun.

Kami menyatakan sikap untuk peduli dengan teman-teman yang menjadi korban di Fakultas Teknik dan ataupun Fakultas Hukum yang tak bersalah, banyak saudara-saudara kita yang tak bersalah menjadi korban.

Kami bukan memihak, tetapi kami peduli dengan siapa saja yang menjadi korban.
Dalam statistik ada banyak mahasiswa yang dirawat di rumah sakit adalah anak Fispol.

Teman-teman, pernahkah terlintas dengan tragedi ini akan berimbas bagi teman-teman kita yang bahkan tidak terlibat?
FPIK, Pertanian, FMIPA, dll turut menanggung tragedi ini.

Nama baik Universitas Sam Ratulangi yang terkenal di seantero Indonesia dengan semboyan "Sitou Timou Tumou Tou" seakan lenyap dengan anarkisme "Homo Homini Lopus".

Mari bahu membahu saudaraku, Perdamaian adalah hak bagi kita semua.

*Pengurus HMJ Ilmu Pemerintahan Fispol Unsrat
Netralitas demi Perdamaian.

manadopost
My note:
Hari Rabu, 5 Maret 2014 saya sendiri bersama dengan beberapa sahabat dari BKK Fispol Unsrat sedang mengadakan survey lokasi di Desa Moreah, Kec. Ratatotok, Kab. Minahasa Tenggara. Adapun isu bahwa keributan akan terjadi sudah kami prediksi, setelah pada hari sebelumnya, yaitu Selasa 4 Maret 2014 juga terjadi aksi baku lempar antara mahasiswa Fakultas Hukum & Teknik.

Adapun di hari selasa itu, mahasiswa Fispol tidak ada yang terlibat dan hanya sekedar menonton, karena aksi baku lempar ini terjadi di Fispol (Fak. Ilmu Sosial dan Politik) dan sebagian dari lokasi FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis). Sore itu juga sebagian dari organisasi mahasiswa Fispol (HMJ Ilmu Pemerintahan, BKK, dan lainnya) berusaha mengamankan teman-teman dari Fispol agar tidak ikut terpancing.

Meski saya tidak tahu duduk masalah yang sebenarnya, mungkin ini ada kaitannya juga dengan aksi pada hari senin malam.
Pada hari senin, 3 Maret 2014 pada saat kami sedang melaksanakan kegiatan Doa Panitia Pelayanan Kasih di Kampus Fispol, ada terdengar suara keributan (berteriak, dsb) - adapun kami mengira itu hanya karena ulah orang mabuk. Berselang beberapa saat setelah kegiatan Doa selesai, ada beberapa mahasiswa Fak. Teknik yang kebetulan juga mengenal salah satu diantara kami bertanya apa mereka melihat ada beberapa orang yang lewat disekitar tempat kami, karena menurut mereka, ada beberapa orang yang mengacau dengan membuat keributan di sekitar teknik.
Ternyata hal ini berlanjut hingga selasa besoknya.

Naas, puncaknya pada hari Rabu yang cerah. Kegiatan belajar mengajar di beberapa fakultas ternoda dengan darah dan api yang harus membumi hanguskan beberapa fasilitas negara yang ada di fakultas teknik.

Kami rombongan yang ada diluar Manado saat itu tentu sangat menyesali tindakan anarkis yang harus terjadi.
Adapun yang lebih menyakitkan adalah mendengar bahwa ada beberapa anak Fispol asal Papua yang ikut terlibat tawuran akibat balas dendam karena ada rekannya yang terkena lemparan batu hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Adapun mahasiswa yang terkena lemparan batu sempat diberikan pertolongan pertama di area Sekretariat BKK Fispol.

Rombongan aparat keamanan pada akhirnya berada di sekitar taman Fispol.
Adapun sempat saya dengar bahwa ada beberapa mahasiswa Fispol yang mencoba mendesak polisi karena kesannya hanya melakukan pembiaran atas aksi tragis ini - pembakaran gedung fakultas.

Hari Rabu malam, setelah selesai dari kegiatan survey lokasi. kami beberapa mahasiswa Fispol yang terdiri dari pengurus BKK & HMJ Pemerintahan diijinkan untuk masuk ke kampus dan melihat sisa-sisa tawuran antar mahasiswa. Fispol yang menjadi 'jalur Gaza' perang batu dari mahasiswa terlihat sangat mencekam, apalagi dengan kehadiran banyak polisi dan tentara di malam itu.
Kabar yang cukup menyesakkan bahwa ada banyak mahasiswa Fispol yang menjadi korban akibat terkena lemparan batu. 
Miris mendengar kabar ini...

Adapun beberapa dugaan yang mulai muncul di permukaan mengenai dugaan keterlibatan adanya aktor intelektual dibalik tragedi ini - betapa tidak? Kehidupan damai yang telah dibangun bersama-sama seakan sirna dalam sekejap dengan aksi anarkis ini.

Saya tidak berpihak pada siapapun, tapi saya turut prihatin terhadap teman-teman mahasiswa yang harus jadi korban.
Saya tidak berani berspekulasi bahkan menyampaikan beberapa hal lebih lanjut, biarlah tragedi ini akan menjadi tanda awas bagi kita semua, bahwa persatuan dan kesatuan bisa saja terpecah oleh adanya EMOSI dan EGOISME.

Sayang sekali, tugas akhir, motor, bahkan bangunan yang harus jadi korban.
Imbas dari tragedi ini semua sangatlah berat, konsekuensi fakultas bisa dibubarkan atau bahkan universitas, bisa ada isu rasisme terhadap mahasiswa-mahasiswa pendatang, tingkat stres yang memicu rasa ingin bunuh diri bagi para mahasiswa yang kehilangan tugas akhirnya, aksi balas dendam yang mungkin bisa lebih buruk, kekacauan, dan masih banyak lagi.

Think again!
Berpikir panjanglah sebelum bertindak...

Duka ini adalah duka kita semua.

Perasaan kemenangan yang menjadi bagian segelintir perusuh telah menghancurkan bukan hanya beberapa fakultas, tetapi nama baik Universitas.

Pray for Unsrat.

You Might Also Like

7 komentar

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Terima Kasih Untuk Komentar Anda.

Editor Picks

Pesona Batu Dinding Kilo Tiga - Amurang, Minahasa Selatan

Kategori

Catatanku (45) Catatan Ringan (20) Kampus (20) Galeri (17) Motor (16) Opini (16) Blogging (14) Pengalaman (14) CB150R (13) Acara (10) Photo Story (10) Perayaan (9) Travel (9) Bisnis (6) Pelayanan (6) Kehidupan (5) Fotografi (4) Monetize (4) Pelajaran Hidup (4) Politik (4) Hobi (3) Kuliner (3) Post by Email (3) Sahabat (3) Tekno (3) Event (2) Keluarga (2) Motivasi (2) Pemerintahan (2) Sulawesi Utara (2) Abstrak (1) Adventure (1) Broadcasting (1) Film (1) Kesehatan (1) Menulis (1) Musik (1) Radio (1) Review (1) Rohani (1)

visit north sulawesi - catatanbryant.com