Juara tanpa Mahkota - Pelajaran di Hari Wisuda!

9:38:00 AM

Kamis, 19 Mei 2016 menjadi hari bersejarah dalam riwayat pendidikan saya di Perguruan Tinggi. Wisuda, merupakan dambaan setiap mahasiswa sebagai salah satu bagian paripurna dalam dinamika kegiatan menuntut ilmu di Universitas.


1085 Wisudawan/i menerima gelar secara resmi lewat Rapat Senat Terbuka Universitas Sam Ratulangi yang juga turut dihadiri Dr. Ir. Pramono Anung, MM (Menteri Sekretaris Kabinet) dan Olly Dondokambey, SE selaku Gubernur Sulawesi Utara.


Perjuangan meraih gelar Sarjana Ilmu Politik (S.I.P) diraih dalam kurun waktu 4 Tahun 8 Bulan. Bukan karena mengulang mata kuliah, namun karena pengabdian lewat organisasi kampus. Saya termasuk mahasiswa KuRa-KuRa (Kuliah-Rapat). Apabila saya mahasiswa KuPu-KuPu (Kuliah-Pulang) tentu waktu studi di kampus bisa lebih singkat.



* * *
“Juara tanpa Mahkota...” ungkapan ini sering kita dengar dalam dunia Sepakbola. Sebutan ini biasanya diberikan kepada tim yang hebat dan banyak orang memiliki ekspektasi tinggi akan prestasinya namun tidak bisa meraih trofi atau piala pada partai puncak. Istilah Juara tanpa Mahkota ini sering disandang oleh para Runner-Up ataupun semifinalis dalam sebuah turnamen. Tim yang sering dijuluki sebagai Juara tanpa Mahkota salah satunya adalah Tim Belanda. (*tidak saya bahas lebih lanjut).

Kali ini saya tidak membahas Juara tanpa Mahkota dari kacamata Sepakbola, namun lebih kepada motivasi kehidupan.

Sukacita dan tawa riang terlihat dari seluruh wisudawan/i, apalagi sanak saudara, keluarga, dan kerabat. Semua terlihat bahagia dan gembira dengan perhelatan wisuda yang dilaksanakan di Manado Convention Center. Begitu pun dengan Ricky (nama disamarkan). Senyum dan tawa yang tulus memancar dari wajahnya. Tidak ada yang menjadi tanda tanya bagi orang sekelilingnya hingga tiba saat namanya dipanggil untuk menjalani prosesi menggeser tali toga dan menerima ijazah. Balutan baju wisuda yang ia pakai sama dengan mayoritas wisudawan/i menimbulkan tanda tanya besar. Angka 3,92 yang tercantum di layar yang terletak di kiri dan kanan MCC mengisyaratkan bahwa Ricky seharusnya menggunakan satu tambahan aksesoris lagi, selempang gelar kehormatan a.k.a Cum Laude.

Rasa penasaran memberikan keberanian untuk bertanya pada wisudawan ini terkait dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi namun tidak mendapat gelar kehormatan wisuda yaitu Cum Laude.

Jawabannya sederhana, bagi Ricky penghargaan semacam itu hanyalah sebuah ‘bonus’ tambahan, karena ilmu dan pengalaman yang ia dapat selama di bangku kuliah memberikan bekal yang lebih banyak dibanding sekedar pengakuan akan gelar kehormatan yang sangat didambakan banyak mahasiswa itu.

Statemen yang ia kemukakan untuk menjawab tanda tanya yang masih bergelora di pikiran saya adalah “setiap masalah dan pergumulan yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita adalah merupakan sebuah jalan untuk kita menjadi rendah hati – sebuah hadiah yang tak terhingga nilainya yang mampu mengangkat seseorang semakin hari semakin naik – serta kemampuan untuk memahami bahwa rencana Tuhan memiliki tujuan yang lebih baik dibanding dengan tujuan yang ditetapkan oleh manusia. Ricky tidak mendapat Cum Laude dikarenakan aturan terbaru yang berlaku di Universitas Sam Ratulangi, yang intinya bahwa Ricky terlambat studi 2 bulan dari batas waktu penyelesaian studi untuk mendapatkan gelar tersebut, meskipun Ricky telah selesai studi sejak Tahun 2014. Alasan penundaan studi yang ia paparkan secara singkat adalah mengabdi lewat organisasi di kampus.

Alasan spesifik apa yang kira-kira dia miliki? Mungkin hanya dia bersama rekan-rekannya yang bisa memberi tahu kita.

Wow, it’s amazing.

Saya begitu termotivasi setelah mendengar penjelasan wisudawan satu ini. Meski hanya dalam waktu yang singkat terlibat bersama orang ini dalam percakapan, namun saya bisa merasakan ‘kematangan’ hasil dari proses panjangnya menimba ilmu di Universitas Sam Ratulangi.

Well, Juara tanpa Mahkota tak selamanya membahas soal kegagalan, namun kali ini kita belajar tentang kerendahan hati, kesabaran, dan hati yang lapang menerima proses hidup. Hebat dan luar biasa serta menjadi teladan tidak melulu dibuktikan dengan adanya trofi, piala, ataupun selempang, namun lewat sikap bijaksana yang memberikan inspirasi dan semangat bagi orang sekitarnya dengan atau tidak adanya ‘ornamen’ kemenangan.

Selamat Ricky, engkau tidak butuh Mahkota, karena pribadimulah Mahkotanya.

*untuk alasan privasi, saya tidak mencantumkan foto Ricky

* * *
Happy Graduation 

- - - - -
 
Galeri
 
Bersama Ayah & Ibu Tercinta

Bersama Orangtua di Kampus - Keluarga Pioh Rompas
Dekan Fispol Unsrat

Dengan Dekan Fispol Unsrat
Dr. Drs. N. R. Pioh, MSi
Chika, Dekan, Bryant
Wisuda dalam Waktu yang Sama
Chika Feybe Sumampouw, SIK

You Might Also Like

3 komentar

Terima Kasih Untuk Komentar Anda.

Editor Picks

Pesona Batu Dinding Kilo Tiga - Amurang, Minahasa Selatan

Kategori

Catatanku (45) Catatan Ringan (20) Kampus (20) Galeri (17) Motor (16) Opini (16) Blogging (14) Pengalaman (14) CB150R (13) Acara (10) Photo Story (10) Perayaan (9) Travel (9) Bisnis (6) Pelayanan (6) Kehidupan (5) Fotografi (4) Monetize (4) Pelajaran Hidup (4) Politik (4) Hobi (3) Kuliner (3) Post by Email (3) Sahabat (3) Tekno (3) Event (2) Keluarga (2) Motivasi (2) Pemerintahan (2) Sulawesi Utara (2) Abstrak (1) Adventure (1) Broadcasting (1) Film (1) Kesehatan (1) Menulis (1) Musik (1) Radio (1) Review (1) Rohani (1)

visit north sulawesi - catatanbryant.com